Loading...

Jumat, 03 Februari 2012

kliping penyakit malaria


BAB I
PENDAHULUAN

A. Masalah
Penyakit malaria adalah penyakit menular yang banyak di derita oleh
penduduk di daerah tropis dan subtropis. Penyakit malaria banyak
ditemukan pada penduduk yang tinggal di daerah rawa. Vektor yang
berperan dalam penularan penyakit malaria adalah nyamuk anopheles.
Plasmudium yang menyebabkan penyakit malaria berasal dari spesies
Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan
Plasmodium malaria (Hiswani, 2004).
Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa penyakit
malaria dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu metode yang
digunakan untuk menemukan jenis dan stadium dari parasit penyebab
malaria adalah sediaan darah malaria.
Metode standar diagnosis malaria berdasarkan pada hasil pembacaan
sediaan darah tipis dan sediaan darah tebal menggunakan mikroskop setelah
sediaan darah diwarnai menggunakan larutan Giemsa dengan menggunakan
konsentrasi tertentu. Kemampuan seorang analis baik dalam membuat
sediaan darah, mewarnai dan memeriksanya sangat menentukan
ditemukannya parasit malaria. (Depkes, 1999)
Sediaan darah malaria dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu sediaan
darah tipis dan sediaan darah tebal. Ada tidaknya plasmodium pada sediaan
darah dipengaruhi oleh stadium yang sedang terjadi pada penderita. Stadium
itu meliputi Stadium dingin dan stadium demam. Demam disebabkan oleh
pecahnya sizon darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah
kedalam aliran darah. (Hiswani, 2004).
B. Rumusan Masalah
Diagnosa penyakit malaria dapat diperiksa dengan sediaan yang
dibuat dalam waktu yang berbeda. Dari uraian diatas maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut bagaimana gambaran mikroskopis
sediaan malaria yang diambil dari waktu yang berbeda.
C. Dugaan Sementara
1. Dugaan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
mikroskopis Plasmodium sp pada sediaan yang diambil dengan waktu
yang berbeda.
2. Dugaan Khusus
a. Mengetahui gambaran mikroskopis sediaan malaria yang diambil
pada saat penderita tidak demam.
b. Mengetahui gambaran mikroskopis sediaan malaria yang diambil
pada saat penderita demam.
c. Membandingkan gambaran mikroskopis sediaan malaria yang
diambil pada saat penderita demam dan tidak demam.
D. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini manfaat yang ingin dicapai yaitu memberikan
informasi pada analis kesehatan tentang gambaran mikroskopis sediaan
malaria berdasarkan perbedaan waktu pengambilan.

BAB II
PERMASALAHAN

Infeksi malaria terbesar pada lebih dari 100 negara di benua Afrika, Asia, Amerika (bagian Selatan) dan daerah Oceania dan Karibia. Lebih dari 1,6 triliun manusia terpapar oleh malaria dengan dugaan morbiditas 200-300 juta dan mortalitas lebih dari 1 juta per tahun. Beberapa daerah yang bebas malaria adalah Amerika Serikat, Canada, Negara di Eropa (kecuali Rusia), Israel, Singapura, Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea, Brunei, dan Australia. Negara tersebut terhindar dari malaria karena vector kontrolnya yang baik, walaupun di Negara tersebut makin banyak dijumpai kasus malaria yang import karena pendatang dari Negara malaria atau penduduknya mengunjungi daerah-daerah malaria.
P. falciparum dan P. malariae umumnya dijumpai pada semua Negara dengan malaria; di Afrika, Haiti, dan Papua Nugini umumnya P. falciparum; P. vivax banyak di daerah Amerika Latin. Di Amerika Selatan, Asia Tenggara, Negara Oceania dan India umumnya P. falciparum dan P. ovale, P. vivax biasanya hanya di Afrika. Di Indonesia kawasan timur sampai ke utara, Maluku, Irian Jaya dan dari Lombok sampai Nusa Tenggara Timur merupakan daerah endemis malaria P. falciparum dan P. vivax. Beberapa daerah di Sumatra mulai dari Lampung, Riau, Jambi dan Batam kasus malaria cenderung meningkat.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia, dan splenomegali. Dapat berlangsung akut ataupun kronik. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komlikasi ataupun mengalami komlikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat. Sejenis infeksi parasit yang menyerupai malaria ialah infeksi babesiosa yang menyebabkan babesiosis.
Plasmodium yang sering dijumpai adalah Plasmodium vivax yang menyebabkan malaria tertiana (Benign Malaria) dan Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika (Malignan Malaria). Plasmodium malariae pernah juga dijuumpai pada suatu kasus, tetapi sangat jarang. Plasmodium ovale pernah dilaporkan dijumpai di Irian Jaya, pulau Timor, pulau Owi (utara Irian Jaya).

1. Keluhan dan Gejala
Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita, tingginya transmisi infeksi malaria, berat atau ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis Plasmodium (P. falciparum sering memberikan komplikasi), daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan), umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat), ada dugaan konstitusi genetik, keadaan kesehatan dan nutrisi, kemoprofilaktis dan pengobatan sebelumnya.
Ada 4 jenis plasmodium yaitu, P. vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana/vivax, P. falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/falciparum, P. malariae, cukup jarang namun dapat menimbulkan sindroma nefrotik dan menyebabkan malaria kuartana/malariae dan P. ovale dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik barat, memberikan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale.
Manifestasi Umum Malaria
Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia, dan splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan, malaise, sakit kepala, sakit belakang, merasa dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia, perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang dingin. Keluhan prodromal sering terjadi pada P. vivax dan ovale, sedangkan pada P. falciparum dan malariae keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak. Gejala yang klasik yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara berurutan: periode dingin (15-60 menit): mulai menggigil, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, diikuti dengan meningkatnya temperature, diikuti dengan periode demam: penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan keadaan berkeringat; kemudian periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan temperature turun, dan penderita merasa sehat. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi P. vivax, pada P. falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada P. falciparum, 36 jam pada P. vivax dan ovale, pada 60 jam pada P. malariae. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. Beberapa mekanisme terjadinya anemia ialah: pengrusakan eritrosit oleh parasit, hambatan eritropoiesis sementara, hemolisis oleh karena proses complemen mediated immune complex, eritrofagositosis, penghambatan pengeluaran retikulosit, dan pengaruh sitokin. Pembesaran limpa (splenomegali) sering dijumpai pada penderita malaria, limfa akan teraba setelah 3 hari dari serangan infeksi akut, limpa menjadi bengkak, nyeri dan hiperemis. Limfa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria, penelitian pada binatang percobaan limpa menghapuskan eritrosit yang terinfeksi melalui perubahan metabolisme, antigenic dan rheological dari eritrosit yang terinfeksi.

Manifestasi Klinik Malaria Non Falciparum
a. Manifestasi Klinis Malaria Tertiana/M. Vivax atau M. Benigna
Inkubasi 12-17 hari, kadang-kadang lebih panjang 12-20 hari. Pada hari-hari pertama panas irregular, kadang-kadang remiten atau intermiten, pada saat tersebut perasaan dingin atau menggigil jarang terjadi. pada akhir minggu tipe panas menjadi intermiten dan periodic setiap 48 jam dengan gejala klasik Trias Malaria. Serangan paroksismal biasanya terjadi pada waktu sore hari. Kepadatan parasit mencapai maksimal dalam waktu 7-14 hari. Pada minggu kedua limpa mulai teraba. Parasitemia mulai menurun setelah 14 hari, limpa masih mebesar dan panas masih berlangsung, pada akhir minggu ke-5 panas mulai turun secara krisis. Pada malaria vivax manifestasi klinik dapat berlangsung secara berat tetapi kurang membahayakan. Limpa dapat membesar sampai derajat 4 atau 5 (ukuran Hackett). Malaria serebral jarang terjadi. Edema tungkai disebabkan karena hipoalbuminemia. Mortalitas malaria vivax rendah tetapi morbiditas tinggi karena seringnya terjadi relapse. Pada penderita yang seimune perlangsungan malaria vivax tidak spessifik dan ringan saja; parasitemia hanya rendah; serangan demam hanya pendek dan penyembuhan lebih cepat. Reistensi terhadap kloroquin pada malaria vivax juga dilaporkan di Irian Jaya dan didaerah lainnya. Relapse sering terjadi karena keluarnya bentuk hipnozoit yang tertinggal di hati pada saat stastus imun tubuh menurun.

b. Manifestasi Klinis Malaria Malariae/M. Quartana
M. Malariae banyak dijumpai didaerah Afrika, Amerika Latin, sebagian Asia. Penyebarannya tidak seluas P. vivax dan P. falciparum. Masa inkubasi 18-40 hari. Manifestasi klinik seperti pada malaria vivax hanya berlangsung lebih ringan. Anemia jarang terjadi, splenomegali sering dijumpai walaupun pembesaran ringan. Serangan paroksismal terjadi tiap 3-4 hari, biasanya pada waktu sore dan parasitemia sangat rendah <1%.
Komplikasi jarang terjadi, syndrome nefrotik dilaporkan pada infeksi Plasmodium malariae pada anak-anak Afrika. Diduga komplikasi ginjal disebabkan oleh karena deposit kompleks immune pada glomerolus ginjal. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan Ig M bersama peningkatan titer antibodinya. Pada pemeriksaan dapat dijumpai edema, esites, proteinuria yang banyak, hipoproteinemia tanpa uremia dan hipertensi. Keadaan ini prognosisnya jelek. Respon terhadap pengobatan antimalaria tidak menolong, diet dengan kurang garam dan tinggi protein, dan diuretic boleh dicoba, steroid tidak berguna.

c. Manifestasi Klinis Malaria Ovale
Merupakan bentuk yang paling ringan dari semua jenis malaria. Masa inkubasi 11-16 hari, serangan paroksismal 3-4 hari terjadi malam hari dan jarang lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi. Apabila terjadi infeksi campuran dengan plasmodium lain, maka P.ovale tidak akan tampak di darah tepi tetapi plasmodium yang lain yang akan ditemukan. Gejala klinis hamper sama dengan malaria vivax, lebih ringan, pouncak panas lebih rendah dan perlangsungan lebih pendek, dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan. Serangan menggigil jarang terjadi dan splenomegali jarang sampai dapat diraba.

Manifestasi Malaria Tropika atau M. Falciparum
Malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat diitandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia sering dijumpai, dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika mempunyai perlangsungan yang cepat dan parasitemia yang tinggi dan menyerang semua bentuk eritrosit. Gejala prodromal yang sering dijumpai yaitu sakit kepala, nyeri belakang atau tungkai, lesu, perasaan dingin, mual, muntah, dan diare. Parasit sulit ditemui pada penderita dengan pengobatan supresif. Panas biasanya ireguler dan tidak periodic, sering terjadi hiperpireksia dengan temperature di atas 40oC. gejala lain berupa konvulsi, pneumonia aspirasi dan banyak keringat walaupun temperature normal. Apabila infeksi memberat nadi cepat, nausea, muntah, diare menjadi berat dan diikuti kelainan paru (batuk). Splenomegali dijumpai lebih sering dari hepatomegali dan nyeri pada perabaan; dan hati membesar dapat disertai timbulnya ikterus. Kelainan urin dapat berupa albuminuria hialin dan Kristal yang granuler. Anemia lebih menonjol dengan leucopenia dan monositosis (Sudoyo, 2006).

2. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Malaria
Diagnosa malaria sering memerlukan anamnesa yang teppat tentang asal penderita apakah dari daerah endemic malaria, riwayat bepergian ke daerah malaria, riwayat pengobatan kuratif maupun preventif.
- Pemeriksaan Tetes Darah untuk Malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatik tidak menyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi 3 kali dan hasil negative, maka diagnose malaria dapat dikesampingkan. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui:
- Tetesan preparat darah tebal
- Tetesan darah tipis
- Tes antigen: P-F test
- Tes serologi
- Pemeriksaan PCR (Polimerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan teknologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.
- Pemeriksaan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay)

3. Etiologi
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi malaria juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptile dan mamalia. Termasuk genus Plasmodium dari family plasmodidae. Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual dijaringan hati dan eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu Anopheles betina. Nyamuk ini biasanya akan menggigit mulai pukul 18.00 sampai pukul 06.00.
Klasifikasi Ilmiah Plasmodium
Kingdom : Haemosporodia
Divisio : Nematoda
Subdivisio : Laveran
Kelas : Spotozoa
Ordo : Haemosporidia
Genus : Plasmodium
Species : P. falcifarum, P. ovale, P. malariae, P. vivax, dll

Klasifikasi Ilmiah Nyamuk Anopheles
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Superfamili : Culicoidea
Famili : Culicidae
Subfamili : Anophelinae
Genus : Anopheles
(Wikipedia, 2010)
Malaria ditransmisikan ke manusia oleh nyamuk anopheles betina dan ada sekitar 430 spesies Anopheles dan 3500 spesies nyamuk. Anopheles gambiae merupakan vector yang paling signifikan di Afrika. Siklus hidup Anopheles umumnya sama dengan nyamuk yang lain yaitu dari telur – larva – pupa – nyamuk (Cross, 2004).
Hospes definitif dan vektor dari parasit yang disebabkan oleh plasmodium adalah nyamuk Anopheles betina. Perkembangbiakan aseksual dan gametogenesis terjadi di hospes perantara yaitu manusia. Dari semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup yang sama. Infeksi sporozoit berasal dari nyamuk Anopheles betina yang akan ditransmisikan ketika nyamuk menggigit manusia. Sporozoit akan bermigrasi melewati pembuluh darah meuju ke hati kemudian menginfeksi hati dan memulai perkembangbiakan aseksual. Di hati, schizonts akan terbentuk dan di dalamnya terdiri dari banyak merozoit. Setelah terjadi pematangan schizont yang mengandung merozoit, maka schizont akan pecah dan merozoit akan menuju aliran darah. Dan di dalam aliran darah merozoit akan menginfeksi sel darah merah (siklus eritrositer). Di dalam darah sebagian parasit akan membentuk gamet jantan dan gamet betina, bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit akan terjadi siklus seksual dalam tubuh nyamuk. Setelah terjadi perkawinan akan tebentuk zygote dan menjadi lebih bergerak menjadi ookinet yang menembus dinding nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oocyst yang akan menjjadi masak dan mengeluarkan sporozoit yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamukk dan siap menginfeksi manusia (Wilson, 2001).

4. Cara Pencegahan
Pemahaman tentang kebiasaan dan perilaku nyamuk Anopheles betina sanat berguna dalam pencegahan penyakit. Tempat-tempat rawa dan lingkungan mikro yang tenang dapat mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles. Menghindarki tempat yang dipenuhi nyamuk dan membersihkan tempat perindukan dapat mengurangi kemungkinan gigitan nyamuk.
Tindakan pencegahan untuk mengindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara:
1. Tidur dengan kelambu, sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup peptisida: pemethrin atau deltamethrin)
2. Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquitoes repellents): gosok, spray, asap, elektrik
3. Mencegah berada di alam bebas dimana nyamuk dapat menggigit atau harus memakai proteksi (baju lengan panjjang, kaos atau stocking). Nyamuk akan menggigit diantara jam 18.00 – 06.00. nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 meter.
4. Memproteksi tempat tinggal atau kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti-nyamuk

Vaksinasi terhadap malaria masih tetap dalam pengembangan. Hal yang menyulitkan adalah banyaknya antigen yang terdapat pada plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur plasmodium, yang paling berbahaya adalah P. falciparum sekarang baru diitujukan pada pembuatan vaksin untuk proteksi terhadap P. falciparum. Pada dasarnya ada 3 jenis vaksin yang dikembangkan yaitu vaksin sporozoit (bentuk intrahepatik), vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission working untuk melawan bentuk gametosit. Vaksin dalam bentuk aseksual yang pernah dicoba ialah SPF-66 atau yang dikenal sebagai vaksin Patarroyo, yang pada penelitian akhir-akhir ini tidak dapat dibuktikan manfaatnya.

Kontrol terhadap Malaria
Kontrol Vektor
- Menghindarkan diri dari tempat-tempat yang penuh dengan nyamuk teutama Anopheles.
- memakai pakaian yang dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk setiap sore dan malam hari.
- Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquito repellant)
- Semprot kain-kain untuk tidur dan kelambu dengan pestisida pemethrin
- Kecuali untuk keperluan yang penting, ibu hamil sebaiknya tidak bepergian ke daerah endemic P. falciparum.
Ukuran profilaksis
- Klorokuin merupakan obat yang dapat digunakan pada daerah yang tidak
Resisten terhadap klorokuin.
- Meflokuin digunakan pada daerah yang diketahui resisten terhadap klorokuin.
- Doxycycline dapat digunakan jika meflokuin tidak dapat digunakan, kecuali pada ibu hamil, anak < 8 tahun atau orang yang hipersensitif terhadap doxycyclin.
- Cloroquin proguanil dapat diberikan hanya pada pasien yang tidak dapat diberi meflokuin atau doxycyclin.
Emergency Self Treatment of Possible Malaria
(Wilson,2001)

5. Cara Pengobatan
Dalam pengobatan malaria terapi antiplasmodium dan perawatan suportif sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Klorokuin merupakan obat anti malaria yang efektif terhadap P. falciparum yang sensitive terhadap klorokuin. Keuntungannya tidak menyebabkan hipoglikemi dan tidak mengganggu kehamilan. Namun, dengan meluasnya resistensi terhadap klorokuin, maka obat ini sudah jarang dipakai untuk pengobatan malaria berat. Kona merupakan obat anti-malaria yang sangat efektif untuk semua jenis plasmodium dan dipilih sebagai obat utama untuk menangani malaria berat karena masih berefek kuat terhadap P.falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Meskipun kina dapat digunakan pada masa kehamilan, tetapi dapat menyebabkan kontraksi uterus dan memberikan kontribusi untuk hipoglikemia (Wilson,2001).
6. Prognosis
Pada infeksi malaria hanya terjadi mortalitas bila mengalami malaria berat. Pada malaria berat, tergantung pada kecepatan penderita tiba di RS, kecepatan diagnose dan penanganan yang tepat. Walaupun demikian mortalitas penderita malaria berat di dunia masih cukup tinggi antara 15%-60% tergantung fasilitas pemberi pelayanan. Makin banyak jumlah komplikasi akan diikuti dengan peningkatan mortalitas, misalnya penderita dengan malaria serebral dengan hipoglikemi, peningkatan kreatinin, dan peningkatan bilirubin mortalitasnya lebih tinggi dari pada malaria serebral saja.
Prognosis untuk malaria nonfallciparum secara umum baik pada penderita yang responsive untuk melakukan terapi. Relaps P. ovale dan P. vivax dapat dihindari dengan terapi yang sesuai. P. malariae dapat ditangani dengan terapi yang baik sehingga tidak ada kontribusi untuk menyebabkan mortalitas dan morbiditas. Prognosis malaria falciparum, terutama untuk nonimun perlu berhati-hati. Kerusakan organ secara multisystem dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Wilson,2001).

BAB IV
PENUTUP

1. Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah.
2. Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium. ada 4 jenis plasmodium penyebab penyakit malaria yaitu Plasmodium vivax yang menyebabkan malaria tertiana (Benign Malaria) dan Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika (Malignan Malaria). Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.
3. Dalam menginfeksi manusia, plasmodium membutuhkan vector yaitu nyamuk Anopheles.
4. Gejala klasik yang ditimbulkan yaitu Trias Malaria, yang memiliki 3 stadium yaitu stadium diingin, stadium demam, dan stadium berkeringat.
5. Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita, tingginya transmisi infeksi malaria, berat atau ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis Plasmodium.
6. Pemeriksaan penunjang diagnostik dapat menggunakan PCR dan ELISA
7. Pengobatan dapat dilakuukan dengan terapi dan perawatan suportif. Terjadinya komplikasi menyebabkan tingginya angka kesakitan dan angka kematian.
8. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol vector dan perlindungan terhadap tubuh dari gigitan nyamuk.
9. Prognosis baik untuk malaria non falciparum

DAFTAR PUSTAKA

Cross, C. 2004. The Life Cycle of Anopheles Mosquitoes. http://malaria.welcoome.ac.uk/mosquito. diakses pada tanggal 28 Mei 2010.
Sudoyo, A. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI: Jakarta.
Wilson, R. 2001. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. The McGraw – Hill Companies, Inc united states of America.
http://en.wikipedia.org/wiki/anopheles
http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/lifecycleofmalaria

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar